Sebuah Alasan

Maya Anandista. Seorang gadis yang memiliki darah campuran sunda dan jawa. May ialah nama panggilan yang tidak asing bagi telinganya. Tetapi tidak bagi kehidupan yang ditapakinya, asing.

Kosong, itulah keadaan rumah yang ditapaki may saat ini. Entah kemana penghuni rumah yang lainnya. Yang tersisa dan yang menemaninya hanyalah hawa dingin, kesunyian, dan bosan yang berkecamuk. Ditemani dengan malam tanpa bintang, direbahkanlah tubuhnya kedalam kasur yang tidak begitu nyaman buatnya. Nonton tv adalah hal yang terbaik, yang dapat ia lakukan untuk mengisi kekosongan itu.

Waktu kian berjalan lambat may rasa. Banyak hal yang ia lewati. Tidak berguna, ya itu menurutnya. Sepertinya harus ada yang mesti ia perbuat. Tidak, tapi perlu ia perbaiki juga. Namun, apa yang mesti ia perbaiki? Bahkan sekedar untuk bangun dari kasur yang tidak berkawan itu, ia masih enggan beranjak.

Tak ada satu pun hal yang mampu mengusirnya dari tempat itu. Kecuali, hatinya. Ia merasakan hal berbeda. May tidak mampu mengatur deras kalut di hatinya. Sebenarnya apa yang diinginkan hati ini? May mencoba untuk mencari. Tanpa berpikir panjang, may bangunkan tubuhnya. Ia mencoba meraih telpon gengggam yang tepat tergeletak disebelah tubuhnya. Ada yang dapat ia perbuat, yaitu menemukan sebuah jawaban. Tak peduli apa jawaban sebenarnya, yang pasti diinginkan may saat itu ialah ia dapat menenangkan kalut yang berkecamuk dihatinya. Di dalam hatinya tersimpan begitu besar harapan. Tetapi, tidak berlangsung lama rasa itu tumbuh. May tidak mampu menemukan jawaban yang membuatnya risau saat ini, yang mampu menenangkan kalut di hatinya. I

Ia lemah, tak berdaya. Bukan jawaban yang ia temukan. Melainkan hanya sebuah alasan yang tiada guna buatnya. May merasa begitu bodoh telah berharap. Berharap akan ada yang menemaninya, memberi sedikit warna dalam ruang kosong yang ditapakinya. Yang dapat membalas perasaannya yaitu sebongkah air yang pecah, terjatuh dari pelipis mata yang melewati tiap pipi wajahnya. Dalam keadaan yang tak ia inginkan, mulai dari itu ia benci sebuah alasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: