Secarik Kertas

Senja telah menjelang. Untuk kesekian kalinya maya terbangun dari lamunan. Ia takut jika semua yang dapat ia lakukan kini, tidak dapat ia lakukan. Kekosongan kembali menggerutu pikirannya. Secarik kertas yang menidurkannya, mampu membuatnya terbangun. Dalam kabut yang mengotori hatinya saat ini ada satu pesan yang dapat ia ingat. Tak dapat ia bersihkan secepat yang ia lakukan seperti biasanya.

 

Kembali ia memperhatikan sekitarnya. Ia tahu bahwa ia tidak sedang berada dalam tempat asing. Ada bantal yang empuk dan seprai yang indah menjadi alas tubuhnya. Ia kenal betul tempat itu. Di helanya nafas yang panjang hingga menaikkan selimut yang menutupi tubuh kecilnya. Ia hanya  telah bermimpi di dalam kamarnya. Terbangun dari tidur yang sempat tak terpikir olehnya dapat menemui mimpi yang tak sengaja ia alami. Dan kini, telah terbangun karenanya.

 

Dengan langkah tergopoh ia tinggalkan tempat itu. Berjalan menelusuri segala ruangan dalam rumahnya, hingga menemui ruang yang ingin sekali ia habiskan didalamnya. Dengan segera ia raih air yang menggenangi kedua belah tangannya dan membasuhkannya ke wajahnya.

 

Entah, sekarang ia malah ingin mengurungkan niatnya untuk berlama-lama. Kembali ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya yang tidak begitu luas. Ia sedang mencari apa yang membuatnya sedikit kalut. Tulisan pada kertas itu membuatnya tidak mengenal akan dirinya.

 

Maya kembali membaca isi dalam secarik kertas itu. Dan, tertawalah ia dalam lamunan dan kekosongannya. Ia tak lagi takut atas apa yang akan dilakukannya kini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: