Berjalan, Bermimpi

Di tepian taman melati, maya membaringkan tubuhnya diatas kursi besi yang berada disana. Kursi besi yang sudah terguyur hujan lima belas menit yang lalu itu, di sentuh dengan tangan mungilnya, menyeka air yang mungkin bisa membasahi gaun putih yang akan didudukinya. Di sana, tepat didepan pandangannya terdapat segala bentuk permainan anak-anak. Disebelah kanan tidak jauh dari tempat ia duduk, terdapat danau kecil yang tiap pinggir mulutnya terdapat sekumpulan bunga teratai yang siap merekah. Dan disebelah kiri, ada beberapa ekor burung merpati yang sedang memakan makanan yang tercecer di jalanan taman. Ia tidak sendiri. Ada segelintir orang yang juga menghuni tempat itu.

 

Melihat anak-anak kecil yang sedang bermain, maya kembali mengungkap kisah masa kecilnya dulu. Bermain perosotan luncur, ayunan, dan berbagai permainan menarik lainnya. Maya ingat, sewaktu kecil ia pernah jatuh dari permainan perosotan luncur itu, dengan hasil dagu bawah wajahnya luka dan berdarah. Dan saat bermain ayunan juga, maya pernah mengalami kecelakaan hingga pelipis wajah bawah matanya sobek sampai meninggalkan bekas yang tidak bisa dihilangkan.

 

Entah apa yang membuat ia mendatangi taman itu. Setelah duduk hampir sekitar setengah jam, maya kembali mengingat memori kisah lamanya. Meluruskan segala sesuatu yang selama ini mungkin membuat perasaan dan pikirannya mengalami kebuntuan. Terperosok pada suatu celah kusam dunia lamanya.

 

Sebelum maya mendatangi tempat itu, ia telah menapaki tempat lain. Mencoba dan kembali merekam apa yang terjadi terhadapnya satu jam yang lalu. Tiba-tiba saja bongkahan air lepas dari selaput matanya, melewati tiap pipi dan terjatuh pecah menyentuh badan kursi yang telah didudukinya itu. Maya menangis, rapuh meratapi lemah dirinya. Tidak ada yang mampu menahan dan melarangnya melakukan itu. Membuang semua kemelut hatinya. Menjadi bahan perbincangan dalam dialog besar di hatinya, ia berbicara. “Seharusnya aku tidak kesana, menemuinya”. Semakin maya mencoba menahan, semakin pula ia telah kalah pada perasaan yang dibuatnya sendiri. “Aku adalah salah satu manusia bodoh dari segilintir orang yang lemah bahkan lebih dari itu. Mungkinkah, aku dapat keluar dari keadaan ini? Aku butuh sebuah jawaban. Ku mohon, sekarang juga”.

 

Dengan kepala yang hampir tertunduk, ia seka air yang membasahi kedua pipi wajahnya. Sambil menghela nafas panjang, maya menengadahkan kepalanya memandangi langit malam yang telah dibanjiri bintang-bintang. Mencoba menatapi bentuk dan indahnya suasana itu. Terbesit dalam pikirannya, maya ingin menjadi bintang itu. Disana, di luasnya langit yang tenang membentang cakrawala. Seperti berjalan dalam sebuah mimpi. Tidak ada yang mesti ia takutkan. Karena dengan dimulainya ia kembali melangkah, maka ia akan menemui sebuah harapan dari setiap impian.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: